Senin, 27 Oktober 2008

Keutamaaan Ridha menurut Al qur’an

8. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya.
( Qs. Al Bayyinah 8 )
Ridha Allah kepada hambaNya adalah puncak segala kebaikan , itulah balasan dari Allah atas ridha seorang hamba terhadap Allah SWT.

72. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. ( Qs At Taubah 72 )
Maka benar – benar Allah telah meninggikan keridhaanNya diatas surga adn, sebagaimana dia telah meninggikan dzikirNYa diatas shalat, dalam firmanNya
( Qs Al ankabuut 45 )


45. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar ( Qs Al ankabut 45 )
Jadi sebagaimana musyahadah ( hadirnya hati ) Kepada Allah, yang diingat dalam shalat adalah lebih besar daripada shalat itu sendiri. Maka keridhaan Allah yang memiliki surga adalah lebih tinggi daripada surga itu sendiri
Bahkan ridha Allah adalah puncak tujuan dari penghuni surga.
Dalam hadits disebutkan : Sesungguhnya Allah akan menampakkan dzatNya kepada orang – orang mukmin. Allah berfirman, “ Mintalah kamu kepadaku”, lalu mereka berkata : “ keridhaanMu”.
Permintaan mereka terhadap keridhaan setelah memandang, adalah puncak keutamaan.
Makna Ridha
Ridha bermakna mengangkat dan menghilangkan kebencian kepada qada’ dan qadar , dan memandang pahitnya berbagai ketentuan dari Allah sebagai terasa manis.
Disebutkan oleh Syeikh Jalaluddin Rumi : “ Ridha adalah kebahagiaan ketika kekecewaan mendadak datang”. Ridha adalah menerima semua realitas takdir dan ketentuan Allah dengan senang hati, tanpa merasa kecewa, sedih atau marah karena tidak sesuai dengan keinginan nafsu.
Ridha merupakan bukti keimanan
Salah satu rukun iman dari yang enam adalah Percaya bahwa semua takdir baik dan buruk semua dating dari Allah.
Dalam ayat Al qur’an disebutkan
Wa bil qadri khairihi wa sarrihi minallahi ta’ala.
Hadits Nabi Saw :
Dalam hadits atha’, Ibnu Abbas berkata: Ketika Rasulullah menemui sahabat – sahabat Anshar, Beliau brsabda: ”apakah kamu orang – orang mukmin?” , lalu mereka diam, maka berkatalah Umar : “ Ya, Rasulullah”. Beliau bersabda lagi: “ apakah tanda keimananmu?”, mereka berkata: “ kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan ridha dengan qada’ ketentuan Allah”, kemudian Nabi SAW bersabda lagi:”Orang – orang mukmin yang benar, demi Tuhan Ka’ba”.
Dalam hadits diatas adalah jelas bahwa ridha merupakan tanda dari keimanan seseorang, ridha adalah suatu maqam mulia karena didalamnya terhimpun tawakal dan sabar.
Seseorang yang menyerahkan sepenuhnya segala urusannya kepada Allah ( bertawakal ) dengan tetap melakukan ikhtiar atas dasar ikhlash ibadah kepada Allah bukan untuk atas dasar memenuhi sebab – musyabab, pastilah akan ridha jika Allah memilihkan ketentuan atau qada’ apapun untuknya, jika berupa suatu bencana atau ujian maka dia akan bersabar dengan Allah, jika berupa nikmat maka dia akan bersyukur pada Allah.
Orang yang ridha akan senang dengan pilihan Allah, dan meninggalkan pilihan atau kehendaknya sendiri, walaupun kelihatan pahit, tapi bagi dia ( orang yang ridha ) akan terasa manis, sebab dia benar – benar telah yakin tidak ada yang salah dengan ketentuan Allah. Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk dirinya.
Manusia itu faqir ( tidak mempunyai apa – apa dan tidak dimiliki siapa – siapa ) kecuali Allah, bahkan dirinya sendiripun tidak ikut memiliki. Itulah sifat dasar manusia “ iftiqar “
Manusia itu lemah ( dhaif ) tidak bisa apa – apa, bahkan tidak bisa menolak atau menentukan nasibnya sendiri.
Maka kekecewaan paling berat adalah jika manusia sangat mengharapkan setiap kejadian atau peristiwa atau keadaan dalam hidupnya sesuai dengan keinginan dan kehendaknya, kemudian yang mereka dapati adalah hal atau keadaan sebaliknya yang tidak sesuai dengan keingainan dan kehendaknya.
Maka setumpuk kekecewaan akan menghampiri hatinya, meyesakkan dada dan menghimpitnya, memendekkan nalarnya dan menggelorakan amarahnya, sesuatu yang sangat menyiksa.
Dalam hadits qudsi :
Allah berfirman kepada Nabi Dawud AS, : “ Hai dawud, sesungguhnya engkau mempunyai kehendak, Akupun juuga mempunyai kehendak, tapi yang akan terwujud pasti kehendakKu.
Jika engkau menyerahkan kehendakmu kepada kehendakKu, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu, jika engkau tidak menyerahkan kehendakmu pada kehendakKu, maka kehendakmu akan menyengsarakan dirimu sendiri.
Dalam cerita – cerita Musa disebutkan,
sesungguhnya bani isra’il bertanya kepadanya : “ hai Musa, tanyakanlah kepada Tuhanmu untuk kami, sesuatu yang apabila kami mengerjakan, Dia tentu ridha pada kami karenanya”, Musa berkata : “ Ya Tuhanku, Engkau benar – benar mendengar apa yang mereka katakan.” Lalu Allah berfirman : “ Hai Musa, katakanlah kepada mereka, “ mereka harus ridha terhadapKU, sehingga Aku akan ridha terhadap mereka.”
Jadi ridha Allah akan kita peroleh jika kita ridha terhadap semua ketentuan Allah, maka ridha itu meliputi tawakal dan sabar.
Sedangkan tawakal itu berarti tidak ikut memilih, menyerahkan segala urusan kepada Allah, dengan melakukan ikhtiar atas dasar ibadah karena Allah, bukan atas dasar memenuhi sebab musyabab.
Dan sabar meliputi empat rukun yaitu :
1. tidak boleh marah.
2. tidak boleh berkata kotor / mengumpat, menyinggung perasaan orang lain.
3. tidak boleh berbuat / menunjukkan kekesalan hati dengan perbuatan ( sperti membanting pintu dengan keras dan lain – lain ).
4. serta tidak boleh mengeluh atau mengadu pada makhluk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar