Senin, 27 Oktober 2008

Keutamaaan Ridha menurut Al qur’an

8. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya.
( Qs. Al Bayyinah 8 )
Ridha Allah kepada hambaNya adalah puncak segala kebaikan , itulah balasan dari Allah atas ridha seorang hamba terhadap Allah SWT.

72. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. ( Qs At Taubah 72 )
Maka benar – benar Allah telah meninggikan keridhaanNya diatas surga adn, sebagaimana dia telah meninggikan dzikirNYa diatas shalat, dalam firmanNya
( Qs Al ankabuut 45 )


45. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar ( Qs Al ankabut 45 )
Jadi sebagaimana musyahadah ( hadirnya hati ) Kepada Allah, yang diingat dalam shalat adalah lebih besar daripada shalat itu sendiri. Maka keridhaan Allah yang memiliki surga adalah lebih tinggi daripada surga itu sendiri
Bahkan ridha Allah adalah puncak tujuan dari penghuni surga.
Dalam hadits disebutkan : Sesungguhnya Allah akan menampakkan dzatNya kepada orang – orang mukmin. Allah berfirman, “ Mintalah kamu kepadaku”, lalu mereka berkata : “ keridhaanMu”.
Permintaan mereka terhadap keridhaan setelah memandang, adalah puncak keutamaan.
Makna Ridha
Ridha bermakna mengangkat dan menghilangkan kebencian kepada qada’ dan qadar , dan memandang pahitnya berbagai ketentuan dari Allah sebagai terasa manis.
Disebutkan oleh Syeikh Jalaluddin Rumi : “ Ridha adalah kebahagiaan ketika kekecewaan mendadak datang”. Ridha adalah menerima semua realitas takdir dan ketentuan Allah dengan senang hati, tanpa merasa kecewa, sedih atau marah karena tidak sesuai dengan keinginan nafsu.
Ridha merupakan bukti keimanan
Salah satu rukun iman dari yang enam adalah Percaya bahwa semua takdir baik dan buruk semua dating dari Allah.
Dalam ayat Al qur’an disebutkan
Wa bil qadri khairihi wa sarrihi minallahi ta’ala.
Hadits Nabi Saw :
Dalam hadits atha’, Ibnu Abbas berkata: Ketika Rasulullah menemui sahabat – sahabat Anshar, Beliau brsabda: ”apakah kamu orang – orang mukmin?” , lalu mereka diam, maka berkatalah Umar : “ Ya, Rasulullah”. Beliau bersabda lagi: “ apakah tanda keimananmu?”, mereka berkata: “ kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan ridha dengan qada’ ketentuan Allah”, kemudian Nabi SAW bersabda lagi:”Orang – orang mukmin yang benar, demi Tuhan Ka’ba”.
Dalam hadits diatas adalah jelas bahwa ridha merupakan tanda dari keimanan seseorang, ridha adalah suatu maqam mulia karena didalamnya terhimpun tawakal dan sabar.
Seseorang yang menyerahkan sepenuhnya segala urusannya kepada Allah ( bertawakal ) dengan tetap melakukan ikhtiar atas dasar ikhlash ibadah kepada Allah bukan untuk atas dasar memenuhi sebab – musyabab, pastilah akan ridha jika Allah memilihkan ketentuan atau qada’ apapun untuknya, jika berupa suatu bencana atau ujian maka dia akan bersabar dengan Allah, jika berupa nikmat maka dia akan bersyukur pada Allah.
Orang yang ridha akan senang dengan pilihan Allah, dan meninggalkan pilihan atau kehendaknya sendiri, walaupun kelihatan pahit, tapi bagi dia ( orang yang ridha ) akan terasa manis, sebab dia benar – benar telah yakin tidak ada yang salah dengan ketentuan Allah. Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk dirinya.
Manusia itu faqir ( tidak mempunyai apa – apa dan tidak dimiliki siapa – siapa ) kecuali Allah, bahkan dirinya sendiripun tidak ikut memiliki. Itulah sifat dasar manusia “ iftiqar “
Manusia itu lemah ( dhaif ) tidak bisa apa – apa, bahkan tidak bisa menolak atau menentukan nasibnya sendiri.
Maka kekecewaan paling berat adalah jika manusia sangat mengharapkan setiap kejadian atau peristiwa atau keadaan dalam hidupnya sesuai dengan keinginan dan kehendaknya, kemudian yang mereka dapati adalah hal atau keadaan sebaliknya yang tidak sesuai dengan keingainan dan kehendaknya.
Maka setumpuk kekecewaan akan menghampiri hatinya, meyesakkan dada dan menghimpitnya, memendekkan nalarnya dan menggelorakan amarahnya, sesuatu yang sangat menyiksa.
Dalam hadits qudsi :
Allah berfirman kepada Nabi Dawud AS, : “ Hai dawud, sesungguhnya engkau mempunyai kehendak, Akupun juuga mempunyai kehendak, tapi yang akan terwujud pasti kehendakKu.
Jika engkau menyerahkan kehendakmu kepada kehendakKu, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu, jika engkau tidak menyerahkan kehendakmu pada kehendakKu, maka kehendakmu akan menyengsarakan dirimu sendiri.
Dalam cerita – cerita Musa disebutkan,
sesungguhnya bani isra’il bertanya kepadanya : “ hai Musa, tanyakanlah kepada Tuhanmu untuk kami, sesuatu yang apabila kami mengerjakan, Dia tentu ridha pada kami karenanya”, Musa berkata : “ Ya Tuhanku, Engkau benar – benar mendengar apa yang mereka katakan.” Lalu Allah berfirman : “ Hai Musa, katakanlah kepada mereka, “ mereka harus ridha terhadapKU, sehingga Aku akan ridha terhadap mereka.”
Jadi ridha Allah akan kita peroleh jika kita ridha terhadap semua ketentuan Allah, maka ridha itu meliputi tawakal dan sabar.
Sedangkan tawakal itu berarti tidak ikut memilih, menyerahkan segala urusan kepada Allah, dengan melakukan ikhtiar atas dasar ibadah karena Allah, bukan atas dasar memenuhi sebab musyabab.
Dan sabar meliputi empat rukun yaitu :
1. tidak boleh marah.
2. tidak boleh berkata kotor / mengumpat, menyinggung perasaan orang lain.
3. tidak boleh berbuat / menunjukkan kekesalan hati dengan perbuatan ( sperti membanting pintu dengan keras dan lain – lain ).
4. serta tidak boleh mengeluh atau mengadu pada makhluk.

Hakikat Do’a

Do’a

Do’a adalah sebuah perintah Allah SWT, oleh karena itu do’a merupakan sebuah ibadah.

Allah memerintahkan hambaNya berdo’a dengan agar menjadi jelas kedudukan Allah dan hambaNYa.

Dengan berdo’a, maka akan terlihat jelas bahwa :

1. Menunjukkan kefaqiran ( selalu kekurangan dan membutuhkan Allah ) dan kelemahan hamba

2. Menunjukkan sifat Maha Kaya Allah ( tidak butuh pada makhluq ) dan sifat Ash shomad ( Allah tempat bergantung segala sesuatu )

Jika berdo’a merupakan perintah dan sebuah sarana ibadah, maka kita harus mengikuti syarat utama beribadah yaitu :

1. Menghadapkan wajah hati ini kepada Allah / tawajjuh ilallah
2. Ikhlash karena Allah ( tanpa meminta, menuntut imbalan apapun baik dunia maupun akhirat ).

Jadi sebuah do’a dilakukan tidak berdasarkan atas keinginan kita atau dorongan kemauan kita sendiri, tapi sebuah do’a dilakukan atas dasar hanya untuk beribadah kepada Allah Swt.

Dengan pengertian sebagai berikut :

* Do’a dilakukan mengikuti ketentuan syariat ( termasuk ‘adab berdo’a ) yaitu : dalam keadaan suci jasmani, mengangkat kedua tangan, merendahkan suara dengan lembut, menghadap ke kiblat ( jasmani kita )
* Menghadapkan hati kepada Allah dengan sebenar – benar menghadap, hatinya berpasrah total / tawakal kepada Allah, bahwa kita tidak memilih / berdo’a atas dasar keinginan kita ( karena manusia itu makhluq faqir dan lemah ) sehingga tidak mengetahui apa yang baik bagi dirinya.
* Menganggap baik semua yang datang dari Allah, semua pilihan Allah atas diri kita, ridha menerimanya dengan senang hati

Allah berfirman :

Waqaala rabbukum, ud’uuni astajib lakum

Artinya: “Dan berfirman Tuhanmu “Memohonlah (mendoalah) kepada-Ku, Aku pasti perkenankan permohonan (doa) mu itu.” (Surah Al-Mu’min, ayat 60 )

Hadits nabi SAW :

Diriwayatkan dari Abû Dâud dan Al-Turmudzî

Ad du’aa u ‘ibadah

Artinya do’a itu ibadah

Adab berdo’a dengan merendahkan diri dan halus

Surat Al-A’râf ayat 55-56

Artinya: “Mohonlah (berdoalah) kamu kepada Tuhanmu dengan cara merendahkan diri dan cara halus, bahwasannya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas; dan janganlah kamu berbuat kebinasaan di bumi (masyarakat) setelah la baik; dan mohonlah (berdoalah) kamu kepada Allah dengan rasa takut dan loba (sangat mengharap); bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang, yang ihsan (Iman kepada Allah dan berbuat kebajikan).”

Do’a yang baik

Surah Al-A’râf, ayat 180:

Artinya: “Dan Allah mempunyai nama-nama yang sangat indah (Al-Asmâ’u al-Husnâ), maka memohonlah kamu kepada-Nya dengan (menyebut) nama-nama itu.”

Hadits Nabi

Afdlolu dzikri laa ilaha illallah afdlolu du’a u alhamdulillah

Dzikir paling afdol adalah laa ilaha illallah do’a paling afdol adalah alhamdulillah.

Kalu kita mencermati sabda Nabi SAW

Maka do’a paling afdol adalah alhamdulillah yang berarti bersyukur kepada Allah, memuji Allah atas ni’mat yang kita peroleh.

Hal ini diperkuat dengan dalil al qur’an

Surah ibrahim 7

Laa insyakartum la aziidannakum wa laa inkafartum inna adzabi lasyadiid

( siapa yang bersyukur kepadaKu, maka Aku tambah nikmatKu atasnya, dan siapa mengingkari ni’matKu, maka sesungguhnya adzabKu sangat pedih ).

Nabi SAW menganjurkan kita untuk menjadi hamba yang bersyukur melalui do’a atas dasar ibadah, bukan menganjurkan orang agar selalu menuntut / meminta kepada Allah dengan do’anya dan tidak tahu berterima kasih.

Maka do’a adalah sarana ibadah untuk bersyukur kepada Allah,

bukan sarana untuk menuntut permintaan dari Allah.

Maka do’a adalah persembahan bukan penuntutan.

Syeikh Ibnu Athaillah berkata dalam kitabnya al hikam

Sebaik – baik do’a adalah apa yang dituntut Allah atasmu. Bukan apa yang kau tuntut atasNya.

Yaitu sebenar – benarnya penghambaan kepadaNya.

Berkata lagi beliau :

Permintaanmu daripadaNya adalah satu tuduhan bagiNya.

Dan permintaanmu bagiNya (yakni engkau memintaNya untuk

dirimu) adalah satu keghaiban bagimu (yakni kerana engkau telah

merasa ghaib) daripadaNya.

Dan permintaanmu bagi [sesuatu] yang selainNya adalah

kerana sedikitnya rasa malumu kepadaNya.

Dan permintaanmu daripada yang selainNya adalah kerana

wujudnya kejauhanmu daripadaNya.

Sedangkan Syeikh Abdul qadir Al jilani berkata:

Jika engkau mengenal Allah dengan benar dan ‘arif maka pemberianNya akan mencegahmu untuk selalu meminta kepadaNya

Barang siapa yang berdo’a kepada Allah tanpa mengetahui ilmunya maka niscaya dia akan bertambah jauh dari Allah bukan bertambah dekat. Dan akan merasa kecewa terhadap dirinya dan pada Allah jika do’anya tak kunjung terkabul.

Seseorang yang berdo’a dengan mengetahui ilmunya, maka tidak akan pernah merasa khawatir do’anya tidak dikabulkan, tidak akan pernah merasa kecewa kalua permintaannya tidak kunjung dikabulkan oleh Allah, karena dia telah bertawakal dan memasrahkan segala pilihan dan keinginannya sesuai kehendak Allah, bukan berdasarkan keinginan dan pilihannya sendiri.

Allah mengabulkan do’a atas apa yang dipilihNya bukan atas apa yang engkau pilih, berdasarkan waktu yang ditentukanNya bukan berdasarkan waktu yang kau inginkan.

Sesungguhnya manusia mempunyai kehendak ( nisbi ) , Allah juga mempunyai kehendak, dan yang pasti terwujud adalah kehendakNya / iradahNya

Definisi Doa / Do'a / Berdoa - Arti, Pengertian, Taca Cara, dan Waktu Mustajab - Agama Islam

A. Arti Doa / Do'a
Doa adalah memohon atau meminta suatu yang bersifat baik kepada Allah SWT seperti meminta keselamatan hidup, rizki yang halal dan keteguhan iman. Sebaiknya kita berdoa kepada Allah SWT setiap saat karena akan selalu didengar olehNya.

B. Tujuan Berdo'a / Berdoa
- Memohon hidup selalu dalam bimbingan Allah SWT
- Agar selamat dunia akhirat
- Untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT
- Meminta perlindungan Allah SWT dari Setan yang terkutuk

C. Waktu-waktu yang tepat / mustajab untuk berdoa kepada Allah SWT
- Ketika membaca AlQuran
- Setelah Solat wajib
- Pada saat tengah malam setelah sholat tahajud
- Saat melaksanakan ibadah haji
- Saat berpuasa wajib dan sunah

D. Adab atau Tata cara Berdoa / berdo'a
- Menghadap ke Kiblat / Ka'bah
- Sebelum berdoa membaca basmalah, istighfar dan hamdalah. Kemudian diikuti salawa nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.
- Mengangkat kedua telapak tangan sebelum berdoa dan mengusap muka dengan telapak tangan setelah doa.
- Melembutkan suara dan tenang saat berdoa
- khusyuk, ikhlas dan serius
- Berharap agar doanya diterima Allah SWT
- Berdoa berulang-ulang di lain waktu untuk menunjukkan keseriusan kita agar dikabulkan oleh Allah SWT
- Setelah berdoa ditutup dengan salawat nabi dan pujian pada Allah SWT.

Dzikir Dan Macam-Macamnya

Rabu, 25 Juni 2008 09:10:03 - oleh : Fatimah Azzahro
Allah Ta'ala berfirman :
Hai Orang-orang yang beriman, sebutlah Allah (berdzikirlah) dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. ( Al-Ahzab : 41 ).
Berzikir yang terus-menerus merupakan syarat untuk mendapatkan kecintaan dari Allah yang langgeng pula. Allah yang paling berhak untuk dicintai secara menyeluruh , diibadahi, diagungkan dan dimuliakan.
Pekerjaan yang termasuk paling bermanfaat bagi seorang hamba adalah berzikir yang banyak. Zikir bagi hati itu laksana air bagi ladang pertanian, bahkan seperti air bagi ikan, ia takkan hidup tanpa air.
Zikir itu bermacam-macam :
1. Berzikir dengan menyebut asma Allah dan sifat-sifat-Nya, serta memujinya dengan menyebut asma dan sifat-Nya.
2. Tasbih ( mensucikan Allah dengan mengucapkan : Subhanallah ), tahmid ( memuji Allah dengan mengucapkan : Al-hamdu lillah ), takbir ( mengagungkan Allah dengan mengucapkan : Allahu Akbar), Tahlil (mengucapkan la ilaha illallah yang artinya tidak ada tuhan yang haq kecuali Allah) serta memuliakan Allah. Ini merupakan lafal zikir yang paling banyak diucapkan oelh kalangan orang-orang yang belakangan atau pada dewasa ini.
3. Berzikir dengan hukum-hukum Allah, perintah-perintah-Nya serta laranganan- larangan -Nya dan ini merupakan zikir ahli ilmu. Bahkan ketiga zikir ini merupakan zikir mereka kepada Rabb-nya.
4. Berzikir dgn firman-Nya yaitu dengan Al-Qur'an. Ini termasuk zikir yg paling utama. Allah berfirman :
Dan barangsiapa yang berpaling dari zikir-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS. 20:124)
Yang dimaksud dengan zikir-Ku adalah kalam Allah yang telah diturunkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu al-Qur'an.
Allah berfirman :
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dgn mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. 13:28)
5. Berdzikir dengan berdo'a kepada Allah, beristighfar (mohon ampunan) & merendahkan diri di hadapan Allah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kita untuk mengikuti cara berdzikir beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Kelima macam cara berdzikir di atas merupakan cara berdzikir Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Berdzikir kepada Allah harus sesuai dengan yang telah disyari'atkan oleh Allah dan sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada umatnya, bukan bid'ah seperti yang dikerjakan oleh kaum sufi. Mereka berdzikir dengan dzikir yang dibuat-buat dan diada-adakan. Contohnya mereka menyebut : hu… hu… yang menurut mereka lafadz itu termasuk asma Allah. Dzikir semacam ini tidak dibenarkan sama sekali. Begitu juga mengenai bacaan shalawat atas Nabi shallallahu 'alaihi wasallam harus sesuai dengan yang terdapat dalam sunnah seperti shalawat Ibrahimiyyah ( yang dibaca pada tahiyyat dalam shalat ) dan lainnya yang sesuai dengan sunnah.

Jumat, 24 Oktober 2008

ADAB PADA HARI JUM’AT SESUAI SUNNAH NABI

Hari Jum’at adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rosululloh dan sahabatnya, bagaimana seharusnya menyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Alloh Ta’ala. Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam pada hari Jum’at :

1. Memperbanyak Sholawat Nabi

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda yang artinya, ”Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata :” Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah? Nabi bersabda:”Sesungguhnya Alloh mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

2. Mandi Jumat

Mandi pada hari jum’at wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadist Abu Sa’id Al Khudri, dimana Rosululloh bersabda yang artinya, ”Mandi pada hari Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang baligh” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jum’at ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jum’at. Adapun tatacara mandi Jum’at ini seperti halnya mandi janabat biasa. Rosululloh bersabda yang artinya, “Barangsiapa mandi jum’at seperti mandi janabat…” (HR Bukhori dan Muslim).

3. Menggunakan minyak wangi

Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda yang artinya, ”Barangsiapa mandi pada hari Jum’at dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat kemasjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lau sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khutbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya”. (HR Bukhori dan Muslim).

4. Bersegera untuk berangkat ke masjid

Anas bin Malik berkata, ”Kami berpagi-pagi menuju sholat jum’at dan tidur siang setelah sholat jum’at.” (HR. Bukhori). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, ”Makna hadist ini yaitu para shahabat memulai sholat Jum’at pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat dhuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat”Fathul Bari” II/388)

5. Sholat sunnah ketika menunggu imam atau khotib

Abu Huroiroh rodhiyallohu ’anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ” Barangsiapa mandi kemudian datang untuk sholat jum’at, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khutbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari”. (HR Muslim)

6. Tidak duduk dengan memeluk lutut ketika khotib berkhutbah

Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rosululloh melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat jum’at ketika imam sedang berkhutbah.” (Hasan. HR Abu Dawud, Turmidzi).

7. Sholat sunnah setelah sholat Jum’at

Rosululloh bersabda yang artinya, ”Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat jum’at, maka sholatlah empat rekaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, ”Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rekaat dimasjid dan dua rekaat apabila engkau pulang.” (HR Muslim, Turmudzi).

8. Membaca Surat Al kahfi

Nabi bersabda yang artinya, ”Barangsiapa yang membaca surat Al kahfi pada hari jum’at maka Alloh akan meneranginya diantara dua jum’at”. (HR Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)

Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam ketika di hari Jum’at. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah diatas jalan-Nya.
[Di sarikan dari majalah Al Furqon edisi 8 tahun II]

Rabu, 22 Oktober 2008

sedikit kita kenang

awalan...
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
dilahirkan di borobudur, tanggal 8 maret 1977 seperti itulah apa yang tertera di catatan kenal lahir atau pun akta kelahiran....
sebagai seorang ndeso, sedari kecil hidup di sebuah desa yang sekarang cukup terkenal di kab. magelang yaitu sebagai desa wisata kedungombo candirejo punya sebuah impian agar bisa tinggal di daerah yang lebih banyak fasilitas yang tersedia....
keluargaku, terutama simbah kakung bapak dari ibuku Sunaryati yang dulunya adalah kepala desa borobudur tinggal di sekitar candi borobudur bisa dikatakan di bawah candi borobudur...
daerah taman wisata candi borobudur itulah tempat tinggal keluarga, sekarang kami sekeluarga pindah dari tempat tersebut sekitar tahun 1980an..
pendidikan saya pertama di SD MUHAMMADIYAH CANDIREJO BOROBUDUR, yaitu sekitar tahun 1985 s/d 1992...
sejak kelas 1 sampai dengan kelas 3 saya masih tinggal di kedungombo, namun setelah itu sejak kelas 4 s/d kelas 6 mulai naik sepeda onthel berjarak kurang lebih 2,5 km...namun hal itu tidak mengurangi saya untuk belajar...to be continued......